2012, memang bisa dibilang sebagai tahun yang fenomenal. Bagaimana tidak ATPM ataupun lebih tepatnya pabrikan  motor berbondong-bondong menggemborkan mesin injeksi yang katanya irit dan ramah lingkungan. Tak heran jika produk-produk motor baru mereka dibekali mesin injeksi sebagai pengganti mesin karburator yang terbilang konvensional dan lebih boros serta tak ramah lingkungan dibanding dengan mesin injeksi. Belum lagi klaim masing-masing ATPM tentang keunggulan produk teknologi mereka. Dimana hampir semua ATPM yang ada di tanah air mengklaim produk mereka adalah motor yang irit.

Wajar memang, ditengah wacana pemerintah yang akan mencabut subsidi BBM yang bisa berakibat melonjaknya harga BBM secara signifikan. Alhasil efek yang ditimbulkan nantinya dari pengguna kendaraan bermotor yang terlebih lagi roda dua akan lebih interest dengan motor irit. Lucunya disini ditengah klaim masing-masing ATPM yang semrawut, yang menjagokan motornya lebih irit dan lain-lainnya. Seperti Suzuki mengklaim Suzuki Nex yang bisa tahan 79,6 km hanya dengan 1 liter bensin, Trus juga Yamaha dengan Mio J nya yang berhasil di test ride blogger dan media online lainnya sehingga disimpulkan Mio J paling irit bisa menempuh jarak 70 km jauhnya dengan 1 liter bensin saja.

Kalau kita amati coba bandingkan kedua motor itu, dimana Suzuki Nex dengan bermodalkan mesin karburator bisa lebih irit daripada Yamaha Mio J yang sudah dibekali dengan mesin injeksi. Terus bagaimana dengan kabar gembar-gembor pabrikan yang mengklaim mesin injeksi lebih irit jika dibandingkan dengan mesin yang masih memakai karburator.  Seperti Yamaha misalnya yang sudah susah payah membuat Mio J dengan mesin injeksinya dan sampai test ride Mio J jauh-jauh tapi ternyata hasilnya tidak bisa mengalahkan keiritan Suzuki Nex. Buktinya opini yang beredar sekarang di kalangan pembaca awam otomotif bahwa mesin injeksi tidak lebih irit daripada mesin karburator. Lha wong Mio J saja kalah irit dibanding dengan Suzuki Nex. Memang kalau kita kritis, klaim-klaim ATPM semacam ini memang melalu berbagai tahapan yang tak sederhana yang kita pikirkan dengan banyak faktor yang ikut mempengaruhi hasil test ke-iritan mereka.

Namun apakah semua pembaca juga paham dan kritis dengan klaim-klaim semacam ini. Klaim paling irit lah, klaim injeksi lebih baik daripada karburator dan klaim-klaim lainnya. Padahal contoh kasus seperti Suzuki Nex misalnya, klaim Suzuki tentang keiritan Nex tentunya didasarkan pada riding di sirkuit. Tentu saja nantinya akan berbeda hasil jika digunakan dalam keseharian. Dimana keadaan jalan sesungguhnya sangatlah berbeda jauh dengan jalanan di sirkuit, bisa-bisa hasilnya tak sesuai dengan yang di klaim oleh pabrikan. Lebih lucu lagi kalau hasilnya malah melebih klaim pabrikan, ini yang patut dipertanyakan. Yang perlu ditekankan di sini, jangan lah menelan mentah-mentah klaim ATPM. Jadilah konsumen cerdas dengan teliti sebelum membeli produk, jangan karena termakan klaim ATPM menjadi menyesal di kemudian hari. Karena klaim ATPM tak mutlak selamanya benar…!!!!

Iklan