Alkisah seorang siswa sekolah menengah di sebuah kota kecil di pinggiran Pulau Jawa, sebut saja namanya Si Toi. Hari senin itu dia berangkat sekolah dengan semangat, tak seperti hari biasanya yang selalu malas-malasan. Padahal tepat hari itu adalah hari pertama dia melaksanakan UN, dia terlihat tenang dan tampak bahagia. Tak seperti teman lainnya yang terlihat tegang, stress, dan paranoid berlebihan. Tak ada buku pelajaran satu pun yang ia bawa, ia terlihat sangat percaya diri menghadapi UN. Sampai sekolah pun ia dengan santainya bercengkerama tak ada kegalauan yang dia rasakan kali ini, dia bisa tertawa dengan lepas, bercanda dan bersenda-gurau. 1800dengan Si Toi, Si Darsih terlihat lebih pendiam pagi ini, tak ada raut wajah sumringah yang terpancar dari wajahnya. Darsih terlihat tegang, takut, risau akan apa yang akan dihadapinya nanti, UN sudah menjadi momok tersendiri bagi Darsih. Dia di bawah tekanan ekstra berat dalam menghadapi UN tahun ini, bagaimana tidak Darsih adalah anak yang terhitung pandai di sekolahnya. Selain itu Darsih beranggapan, bahwa dirinya bertanggung jawab penuh kepada orang tuanya akan hasil UN nanti. Maklum orang tuanya hanya buruh pabrik dengan upah mingguan yang pas-pasan.

Bel sekolah pun berbunyi, Si Toi dan Si Darsih masuk beserta teman-temannya yang lain. Kebetulan mereka berdua dalam satu ruang ujian yang sama. Tak butuh waktu lama pengawas ruang datang dan segera membagikan soal beserta lembar jawaban UN. Dengan sedikit pengarahan, akhirnya Toi, Darsih dan teman-temannya dipersilahkan untuk mengisi identitas di lembar jawaban UN. UN tahun ini memang dirasa cukup berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Soal dan Lembar Jawaban terintegrasi menjadi satu, dimana antara Soal dan Lembar Jawaban kali ini terdapat “barcode” untuk mengidentifikasi tipe soal. Maklum tahun ini soal UN terdiri dari 20 paket, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya beberapa paket saja. 20 Paket UN ini lha sebagai sebab, kegalauan yang dirasakan Darsih. Tapi bagaiamanapun Darsih harus tetap percaya diri dengan kemampuannya, dia yakin dengan hasil belajarnya selama ini akan berbuah baik untuk dirinya.

Sesaat kemudian bel tanda mulai mengerjakan pun berbunyi, Toi, Darsih dan teman seperjuangan mulai membuka soal dengan hati-hati. Darsih bersyukur ketika dia membolak-balik halaman soalnya, bagaimana tidak bekal belajarnya selama ini keluar di soal yang dia pegang sekarang. Setali dua uang Toi, juga tampak senyum-senyum memandangi soal di atas meja kerjanya. Usut punya usut mengapa selama ini Toi tak merasa takut dengan UN yang dia hadapi sekarang, ternyata dari rumah dia sudah berbekal kunci jawaban lengkap beserta jampi-jampi “lemah kuburan” yang didapat dari Mbah Krentil. Dia merasa beruntung kunci jawaban yang tercetak terang di kertas kecil yang dibawanya saat ini sama dengan soal yang dipegangnya pula. Senang bukan kepalang, tanpa basa-basi diapun segera mengisi lembar jawaban sesuai dengan kunci jawaban yang dia punya.

Merasa sudah selesai, dan percaya diri akan hasil yang akan dia dapatkan nanti, Si Toi tampak ingin membantu temannya yang lain. Dengan semangat dia melipat kembali “kertas kecil ampuhnya” dan melemparnya ke temannya yang membutuhkannya. Namun naas, kertas yang dilemparnya itu tak pernah sampai ke teman yang ditujunya tetapi jatuh tepat di meja Si Darsih. Karena penasaran dengan kertas lipatan yang jatuh di mejanya, Darsih pun membuka lipatan kertas itu. Dan secara kebetulan pula pengawas ujian mengetahui dan langsung mendatangi meja tempat Darsih mengerjakan soalnya. Entah bermimpi apa malam tadi, Darsih dituduh berbuat curang, dan terpaksa memperoleh tindakan tegas dari pengawas ujian dan dikeluarkan dari ruang ujian. Dengan lemas Darsih meratapi nasibnya kini, bagaimana nanti dia menjelaskan ke orangtuanya. Dia terancam tidak LULUS karena dituduh hal yang dia tidak lakukan, padahal disamping itu Darsih adalah siswa yang pandai. Di sisi lainnya Si Toi tinggal menunuggu waktu untuk merasakan keLULUSan dan jaminan nilai UN yang bagus pula. Padahal selama ini Si Toi terkenal sebagai anak yang bandel dan suka membuat ulah di sekolah, belum lagi Si Toi juga masuk ke jajaran siswa kurang pandai di sekolahnya.

Iklan