Sudah hari minggu kawan, sekarang waktunya having fun, mungkin bagi sebagian orang hari minggu adalah hari yang menyenangkan. Banyak aktifitas yang menyenangkan yang bisa kita lakukan di hari minggu ini,salah satunya adalah wisata. Kali ini saya akan sedikit berbagi dengan kawan semua tentang daerah wisata sejarah yang ada di kota saya yaitu Mojokerto. Sudah lama memang saya tak mem-posting tentang wisata, kali saya coba menghadirkan kembali tentang pariwisata yang ada di Jawa Timur khususnya Mojokerto. Sudah  bukan menjadi rahasia lagi kalau Mojokerto sangat identik dengan peninggalan sejarah Kerajaan Mojopahit. Berikut ini adalah salah satu peninggalan kebesaran Kerajaan Mojopahit yaitu Candi Bajang Ratu.

Gapura Bajang Ratu atau juga dikenal dengan nama Candi Bajang Ratu adalah sebuah gapura / candi peninggalan Majapahit yang berada di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Bangunan ini diperkirakan dibangun pada abad ke-14 dan adalah salah satu gapura besar pada zaman keemasan Majapahit. Menurut catatan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, candi / gapura ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara yang dalam Negarakertagama disebut “kembali ke dunia Wisnu” tahun 1250 Saka (sekitar tahun 1328 M). Namun sebenarnya sebelum wafatnya Jayanegara candi ini dipergunakan sebagai pintu belakang kerajaan. Dugaan ini didukung adanya relief “Sri Tanjung” dan sampai sekarang di daerah Trowulan sudah menjadi suatu kebudayaan jika melayat orang meninggal diharuskan lewat pintu belakang

“Bajang Ratu” dalam bahasa Jawa berarti “raja / bangsawan yang kecil / kerdil / cacat”. Dari arti nama tersebut, gapura ini dikaitkan penduduk setempat dengan Raja Jayanegara (raja kedua Majapahit) dan tulisan dalam Serat Pararaton, ditambah legenda masyarakat. Disebutkan bahwa ketika dinobatkan menjadi raja, usia Jayanegara masih sangat muda (“bujang” / “bajang”) sehingga diduga gapura ini kemudian diberi sebutan “Ratu Bajang / Bajang Ratu” (berarti “Raja Cilik”). Jika berdasarkan legenda setempat, dipercaya bahwa ketika kecil Raja Jayanegara terjatuh di gapura ini dan mengakibatkan cacat pada tubuhnya, sehingga diberi nama “Bajang Ratu” (“Raja Cacat”).

Sejarawan mengkaitkan gapura ini dengan Çrenggapura (Çri Ranggapura) atau Kapopongan di Antawulan (Trowulan), sebuah tempat suci yang disebutkan dalam Kakawin Negarakretagama: “Sira ta dhinarumeng Kapopongan, bhiseka ring crnggapura pratista ring antawulan”, sebagai pedharmaan (tempat suci). Di situ disebutkan bahwa setelah meninggal pada tahun 1250 Saka (sekitar 1328 M), tempat tersebut dipersembahkan untuk arwah Jayanegara yang wafat. Jayanegara didharmakan di Kapopongan serta dikukuhkan di Antawulan (Trowulan). Reruntuhan bekas candi tempat Jayanegara didharmakan tidak ditemukan, yang tersisa tinggal gapura paduraksa ini dan pondasi bekas pagar. Penyebutan “Bajang Ratu” muncul pertama kali dalam Oundheitkundig Verslag (OV) tahun 1915.

Lokasi Candi Bajang Ratu berletak relatif jauh (2 km) dari dari pusat kanal perairan Majapahit di sebelah timur, saat ini berada di Dusun Kraton, Desa Temon, berjarak cukup dekat (0,7 km) dengan Candi Tikus. Alasan pemilihan lokasi ini oleh arsitek kerajaan Majapahit, mungkin untuk memperoleh ketenangan dan kedekatan dengan alam namun masih terkontrol, yakni dengan bukti adanya kanal melintang di sebelah depan candi berjarak kurang lebih 200 meter yang langsung menuju bagian tengah sistem kanal Majapahit, menunjukkan hubungan erat dengan daerah pusat kota Majapahit.

Untuk mencapai lokasi Gapura Bajang Ratu, pengunjung harus mengendara sejauh 200 meter dari jalan raya Mojokerto – Jombang, kemudian sampai di perempatan Dukuh Ngliguk, berbelok ke arak timur sejauh 3 km, di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Di sekitar lokasi Gapura Bajang Ratu di Trowulan (bekas ibukota kerajaan Majapahit) tersimpan banyak peninggalan bersejarah lainnya dari zaman keeemasan saat kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan yang disegani di muka bumi.

Tertarik?? Monggo bisa langsung mengunjunginya. Tentunya biaya yang diperlukan untuk bisa memasuki area wisata sejarah ini tak begitu mahal kok. Mari kita lestarikan warisan sejarah kita kawan, dengan mengunjunginya.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gapura_Bajang_Ratu