Mungkin kawan pernah ingat jika kita kembali ke beberapa tahun yang lalu, dimana kala itu helm “cebok (isitilah Jawa Timur)” sedang ngetrend-ngetrendnya. Bahkan orang yang memakai helm standard half face bisa dibilang sebagai “orang tua” ataupun jadul dan ketinggalan jaman. Helm “cebok” kala itu identik dengan anak muda yang katanya “gaul” dan trendy. Bukan cuma helm saja, coba kita mengingat kembali lagi penggunaan kaca spion pada motor. Kala itu motor dengan spion 2 lengkap terpasang di motornya, sudah bisa dipastikan motor “orang tua”. Sekali lagi anak muda kali itu lebih senang memakai spion 1 yang terpasang di motornya. Bahkan yang lebih tragisnya lagi malah tak memakai kaca spion sama sekali. Motor dengan spion lengkap, sering kali di cemooh di kalangan anak muda. Yang kuno lha, yang seperti orang tua dan berbagai cemoohan lain yang keluar akibat penggunaan spion lengkap dan helm standard.

Namun seiring berjalannya waktu, dengan penerapan UU baru tentang lalu lintas dimana para pengguna motor ataupun pengendara motor wajib melengkapi motornya jika mau berkendara. Dan sekarangpun mulai tampak hasilnya dari penerapan UU lalu lintas itu. Kalau kita mau mengamati sekarang, sudah tak ada lagi orang yang menggunakan Helm “cebok”. Apalagi di kalangan anak muda sekarang Helm paling tidak standard half face dan bermerk pula, dan pastinya juga sudah ber-SNI. Terus juga jika anda perhatikan di jalanan sekarang ini, terlebih lagi di kota besar. Hampir sudah mulai hilang pengguna motor yang memasang 1 spion di motornya. Mayoritas motor sekarang sudah terpasang 2 spion lengkap kanan dan kiri, walaupun memang terkadang masih ada penggunaan spion yang tidak standard seperti ukuran spion yang masih kecil ataupun spion dengan bentuk yang tidak lazim.

Namun sayangnya yang dirasa masih kurang berhasil sekarang ini adalah penggunaan ban ataupun velg yang tidak sesuai dengan standar. Atau istilah blogsphere yang lebih dikenal dengan “Ban Cacing”, bagaimanapun menurut pengamatan saya, masih banyak pengguna ban cacing berkeliaran di jalan. Terlebih lagi virus ban cacing ini populer dan menjangkita kawula muda kita. Motor tak akan terbilang gaul dan trendy jika tidak memakai ban cacing, setidaknya itulah stigma yang berkembang di mind set kawula muda kita. Makanya, kalaupun ada  wacana tentang penerapan standarisasi di komponen motor yang dicetuskan Kementerian Perindustrian saya setuju sekali. Setidaknya jika kita menerapkan standarisasi di komponen motor seperti Velg, Ban, dan Helm mau tak mau virus ban cacing harus dipaksa dihilangkan.

Seperti penggunaan Helm ber-SNI yang sekarang sudah berjalan, dan membawa hasil yang bagus dengan tak adanya lagi beredar Helm Cebok di pemotor. Memang semua juga tak lepas juga dari hasil koordinasi dengan Kepolisian yang dengan tegas menindak pengendara yang tidak menggunakan Helm SNI. Nah, kembali ke Ban Cacing. Jika nanti sudah mulai diterapkan, yang menurut jadwal akan dimulai pada bulan Mei 2012 tentang penggunaan Velg SNI. Dan dikoordinasikan kembali dengan Kepolisian, besar kemungkinan virus “Ban Cacing” akan segera hilang dari daratan Indonesia. Tinggal nanti dari Kepolisian kita tegas apa tidak menindak pengguna motor yang tidak menggunakan ban dan velg ber-SNI seperti kala kemarin menindak tegas pengguna motor yang tak memakai Helm SNI. Memang sudah waktunya komponen motor ber-SNI, bagaimanapun tujuan SNI adalah juga untuk keselamatan pengguna motor. Bagaimanapun SNI dikeluarkan melalui pengujian yang tak sederhana, dan bisa dibilang barang yang sudah ber-SNI adalah barang yang “safe”. Bagaimana kalau menurut panjengan semuanya.

Gambar : Cafebiker