Memang sih sejak pertama kali dikeluarkan sampai sekarang betik tidak memunculkan tanda² akan laris keras. Di awal mula kemunculannya, Honda memulai dengan meluncurkan Revo AT dan kemudian diikuti dengan Yamaha dengan Lexam-nya. Namun sepertinya sampai sekarang seakan tidak ada respon yang positif dari pasar. Walaupun dalam rapornya Yamaha lebih mengungguli Honda dalam penjualan betiknya. Yamaha dengan Lexam meraih perolehan 61,64% sedangkan sisanya 38,36% dimiliki Revo AT dari Honda. Tetapi bukan itu yang HRM cermati, bukan siapa yang memperoleh penjualan tertinggi. Kenapa betik kok sulit laku?

Kalau menurut analisa sederhana HRM, kebanyakan konsumen motor kita ini memang tidak menyukai motor silangan seperti ini. Singkat kata kalau mau bebek ya bebek, kalau mau matic ya matic. Ambil contoh satu lagi CS1 yang didaulat Honda sebagai motor bergenre City Sport, maksud hati mau menyilangkan motor sport dengan bebek. Tapi hasilnya seperti yang kita lihat sekarang ini, sekali lagi kurang laku. Walaupun memang kita harus akui penjualan CS1 masih lebih baik daripada betik. Padahal kalau kita coba cermati lagi sebenarnya betik ini terbilang fungsional, secara betik lahir dari persilangan dua gen yang berbeda. Motor bebek dengan fungsionalitas komuternya, dan matic sebagai kemudahan kita dalam mengendarai motor secara kita tidak diribetkan dengan perpindahan persneling secara manual.

Terus juga disamping mindset konsumen seperti itu, peran promosi juga sangat penting sekali. Kok sepertinya menurut HRM betik dari kedua pabrikan ini masih kurang promosinya. Dan bahkan mungkin hanya segelintir orang saja yang tahu tentang keberadaan betik ini. Toh bagaimanapun juga promosi adalah faktor yang penting yang mempengaruhi sekali produk itu laku apa tidaknya. Ya itu sih kalau menurut analisa pribadi HRM, mungkin juga masih banyak faktor yang mempengaruhi di luar sana. So, bagaimana kalau menurut panjengan semuanya…??? 🙂

Iklan