Sabar, kata yang cukup singkat dan mudah pengucapannya, namun sulit melakukannya. Memang benar kalau menurut HRM sabar adalah kunci utama keselamatan berkendara. Bagaimana tidak menjadi kunci utama, coba saja jika semua pengendara di jalan raya tidak ada yang memiliki sikap sabar. Sudah bisa HRM pastikan, jalan raya bisa jadi ajang “pembantaian”. Taruh lah kemarin kejadian Bus Sumber Kencono yang bertabrakan dengan Minibus Elf. Disinyalir sopir minibus ini memburu waktu, yang bisa HRM kategorikan perilaku berkendara yang kurang “sabar”. Dan apa yang terjadi akibat perilaku semacam ini, sebagai bukti nyata ya kejadian kemarin ini. Akibat ulah satu orang supir yang tidak sabaran, puluhan nyawa melayang sia².

Belum lagi pengguna jalan lain yang dirugikan karena jalur utama Mojokerto-Jombang sampai ditutup kurang lebih 6 jam. Dan ironisnya kejadian ini pun merembet, karena jalur utama ditutup otomatis semua kendaraaan lewat dalam kota, baik itu bus maupun truk, dan juga kendaraaan lainnya. Sekali lagi ini contoh akibat buruknya bagi perilaku tidak sabar. Gara² tabrakan SK dan Elf yang menimbulkan kemacetan sampai di dalam kota, satu pengendara motor tewas terlindas Truk di kawasan Taman Siswa, Mojokerto. Tepatnya di depan Lapas Mojokerto. Pengendara ini tewas terlindas akibat dia tidak sabar dan bermaksud mendahului truk, tapi naas dia menyenggol body truk lalu kehilangan keseimbangan, yang membawa akhir hidupnya di bawah roda truk. Dan waktu itu pun HRM ada di TKP dan menyaksikan sendiri proses evakuasinya, dan maaf saja HRM tidak tega mengambil gambarnya. Melihat mayat yang dalam kondisi yang mengenaskan. 😦

Ironis memang, padahal sebenarnya hal seperti ini bisa dihindari. Kunci utamanya, ya sabar ini. Terburu-buru seperti apapun hendaknya kita selalu sabar di jalan raya, kalau sudah kita bisa menguasai perilaku sabar ini otomatis kita bisa safety di jalan kok. Yang perlu di ingat adalah, keluarga kita menunngu di rumah masih ada orang yang menyayangi anda di rumah. Dan hal ini pun harus bisa kita mulai dari sekarang, selagi kita bisa. Haruskah anda sampai membayar dengan nyawa anda atau bahkan nyawa orang lain hanya untuk perilaku yang kurang sabar dalam berkendara? Anda sendiri lah yang menentukannya…..

 

Iklan